LABEL “selebriti akademis” saat ini melekat pada sebagian dosen perguruan tinggi. Termasuk, dosen berstatus pegawai negeri sipil (PNS). Disebut selebriti karena mereka bak selebriti yang tidak hanya populer di kalangan internal civitas akademika, tapi juga di luar kandang akademis.
Dalam tri darma perguruan tinggi, sebetulnya semua arah dan tanggung jawab segenap civitas akademika sudah jelas. Yakni, mencakup pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Idealnya, ketiga hal itu dilakukan secara berimbang serta proporsional.
Apa jadinya ketika proporsi tersebut timpang? Misalnya, dosen ternyata lebih sibuk dengan segudang aktivitas di luar kampus? Menjadi staf ahli bupati/wali kota, DPRD, menteri komisaris sebuah perusahaan, tim ahli sebuah proyek, hingga “jabatan-jabatan” lain?
Kasus tersebut bisa menjadi persoalan serius kalau tidak segera menemukan solusi. Sebab, dikhawatirkan dosen nanti beramai-ramai memilih sibuk di luar dan tidak lagi mengabdi dengan tanggung jawab utamanya sebagai pendidik. Mereka hanya sibuk mempelajari apa yang bisa “dijual” di luar.
Sebetulnya, sejak lama mahasiswa berteriak tentang maraknya fenomena “selebriti akademis” tersebut. “Saya mempertanyakan tanggung jawab pendidik. Dosen-dosen selebriti itu sulit ditemui. Padahal, kami punya tugas untuk dikonsultasikan,” kata Eko Wahyono, mahasiswa Jurusan Sosiologi FISIP Unair.
Di kampus-kampus, hampir dipastikan ada beberapa dosen yang mendapat cap selebriti itu. Di FISIP Unair, misalnya. Sejumlah dosen memang juga dikenal memiliki banyak kegiatan di luar kampus. Sebut saja, Ramlan Surbakti, Muhammad Asfar, dan Kacung Marijan. Di Jurusan Komunikasi, muncul nama Staf Ahli Menkominfo Henry Subiakto.
Di Jurusan Sosiologi, ada nama Daniel T. Sparringa (panitia seleksi anggota Komisi Pemberantasan Korupsi), Bagong Suyanto (anggota Dewan Pakar Provinsi Jawa Timur), dan sederet nama lain.
Di perguruan tinggi lain seperti di ITS, ada Fajar Baskoro, Daniel M. Rosyid (ketua Dewan Pendidikan Jawa Timur dan anggota Dewan Pakar Provinsi Jawa Timur), serta Menkominfo Mohammad Nuh. Di Unesa ada nama Muchlas Samani, Ismet Basuki, dan banyak lagi.
“Dosen memiliki energi yang more than more (lebih dari lebih, Red),” ujar Yan Yan Cahyana, ketua Jurusan Komunikasi Unair.
Energi yang berlebih tersebut terkadang tidak terserap seluruhnya oleh kampus tempat dosen mengajar. “Terkadang energi itu dibutuhkan di tempat lain, untuk kepentingan positif lain,” ungkap dosen yang juga konsultan komunikasi pemasaran tersebut.