Pendaftaran Serbu PTN lewat Jalur Prestasi

SURABAYA – Untuk ujian masuk ke perguruan tinggi negeri (PTN) melalui tes tulis bersama, hingga kini belum ada kepastian dari Mendiknas atau Dirjen Dikti. Namun, pintu masuk melalui jalur penelusuran minat dan kemampuan (PMDK) sudah diserbu calon mahasiswa.

Di ITS, misalnya. Sejak 19 Januari, ITS membuka empat jalur PMDK. Yakni, PMDK reguler (siswa berprestasi), berprestasi (prestasi sains, teknologi, dan seni), berbeasiswa (siswa pandai yang kurang mampu), serta kemitraan dan mandiri.

Ketua Promosi PMDK Dr Budi Santoso MSc mengatakan, untuk tingkat S-1, ITS membagi kuota 50-50 melalui jalur PMDK dan UMPTN (ujian masuk perguruan tinggi nasional) atau seleksi penerimaan mahasiswa baru (SPMB). “Seluruh pendaftar kami minta mengumpulkan fotokopi rapor, mulai semester satu hingga lima,” katanya kemarin (18/3).

Peserta seleksi juga harus menyerahkan fotokopi nilai ujian nasional (unas) jenjang SMP yang telah dilegalisasi serta pernyataan tak pernah tinggal kelas dari kepala sekolah selama berada di SMA atau sederajat. Hingga minggu ke-9 ini, jumlah pendaftar mencapai 850. Jumlah tersebut meningkat dibandingkan dengan tahun lalu. Sebab, pada minggu ke-10 tahun lalu, baru terdapat 670 pendaftar.

Pada tahun ini, ITS menargetkan 3.000 pendaftar masuk melalui pintu PMDK. Kursi yang disediakan berkisar 1.000 calon mahasiswa. Panitia memang berniat menjaring banyak calon mahasiswa. Sebab, kompetisi untuk bisa masuk kampus ITS semakin kompetitif. Pelaksanaan seleksi rencananya dilakukan pada 7-25 April.

Yang bakal paling banyak dijaring adalah mahasiswa dari jalur PMDK kemitraan dan mandiri (KM). Perbandingannya cukup ekstrem. Misalnya, di jurusan teknik industri. Apabila PMDK KM menerima 60 mahasiswa, PMDK berbeasiswa hanya menerima sekitar dua mahasiswa. “Untuk prestasi, jumlahnya sekitar lima mahasiswa,” katanya.

Perbedaan PMDK itu memang terletak pada pembayaran sumbangan pembinaan pendidikan (SPP) dan sumbangan pengembangan institusi (SPI). Bagi mahasiswa PMDK berbeasiswa, mereka bebas SPP dan SPI. Demikian juga PMDK berprestasi, mahasiswanya bebas SPI.

Namun, mahasiswa PMDK KM tetap membayar SPP dan diwajibkan membayar SPI. Nominal SPI belum ditentukan. Namun, tahun lalu nilainya mencapai Rp 25 juta hingga Rp 35 juta. Mahasiswa PMDK KM memang dikenai biaya lebih mahal. Sebab, mereka tidak mendapatkan subsidi.

Unair juga sudah memulai pendaftaran jalur prestasi untuk jenjang sarjana. Penerimaan pendaftaran dimulai sejak awal Februari dan berakhir bulan ini. Sebanyak 31 jurusan di kampus berstatus PT BHMN itu memberikan kursi bagi siswa berprestasi. Namur, kuota tiap-tiap program studi tak sama.

Kuota pendidikan dokter, misalnya, tahun ini menjatah 20 mahasiswa yang masuk lewat jalur prestasi. Mahasiswa yang diterima lewat jalur prestasi itu hanya dikenakan SPP Rp 600 ribu per semester. Mahasiswa pendidikan dokter yang diterima melalui seleksi umum akan dikenakan beban dana tambahan (SP3) Rp 100 juta.

Menurut Sekretaris PMDK Unair Subiyanto Sugeng, ada keuntungan bagi siswa yang menembus jalur prestasi. “Mereka hanya dibebani biaya pendidikan per semester,” jelasnya. Hingga kini, ada 300 pendaftar yang sudah mengisi formulir jalar prestasi.(ara/git)

Jawapos – 19 Maret 2008

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: